“Rantang Dari Ibu Ini Selalu Ditolak Oleh Sang Ayah”. Siapa Sangka, “Alasan Dibaliknya Bikin Air Mata Netizen Mengucur Deras”

Perbedaan agama terkadang menjadi tembok seseorang untuk berhubungan. Stigma yang sudah terjadi di masyarakat membuat hal ini terjadi. Padahal agama adalah sebuah kebebasan yang bisa dipeluk oleh siapapun. Sama seperti kisah kali ini. Dimana ada satu keluarga yang memeluk agama yang berbeda. Sang ayah memeluk Agama Konghucu dan sang anak memeluk Agama Islam. Bagaimana pergesekan antar keyakinan mereka? Mari kita saksikan.

Nama sang ayah adalah Wei dan sang anak adalah Mei. Mei sudah menjadi mualaf alias memeluk Agama Islam sejak menikah. Sedangkan, sang ayah tetap pada agama sebelumnya dan tetap menjalankan usaha Nasi Ba Kut Teh. Sebuah nasi yang disuguhkan bersama dengan rusuk babi. Warung nasi yang dijalankan oleh Wei selalu sukses menarik pengunjung karena menang dari segi rasa. Meskipun warung tersebut bobrok dan terlihat lusuh.

Sponsored Ad

Bahkan, terlihat ada tulisan “disewakan’ di depan warung yang dikelola oleh Wei. Waktu itu, Bulan Ramadhan tiba. Wei berencana menutup tokonya setelah Lebaran datang. Tak ada lagi yang mau meneruskan usaha Wei. Apalagi Mei sudah tidak mau melanjutkan usahanya yang sudah berada dalam trend bagus ini. Terhalang akibat larangan memakan daging babi di Agama Islam. Sebagai permintaan maaf, Mei selalu mengirimkan satu rantang berisi opor ayam dan ketupat. Namun, makanan tersebut tidak pernah disentuh oleh ayah kandungnya ini.

Sponsored Ad

Suatu hari, Mei menanyakan kepada pegawai Wei. apakah sang ayah memakan setiap makanan yang dikirimkan olehnya setiap hari? Sang pegawai menggeleng dan berkata bahwa sang ayah tidak pernah sedikitpun menyentuh rantang yang sudah dibawakan oleh sang anak setiap hari. Mei merasa bingung. Dengan cara apalagi dirinya harus meminta maaf dan berbaikan dengan sang ayah. Sang pegawai pun mengingatkan bahwa sebentar lagi ada perayaan Cap Go. Mengapa tak membawakan Opor Ayam itu ke rumah. Mengingat, ibu dari Mei yang sudah tiada sangat suka dengan Opor Ayam. Mei pun berlalu begitu saja.

Sponsored Ad

Sang ayah merayakan hari raya Cap Go sendirian. Dirinya membuka opor dan ketupat yang dibawakan oleh Mei dan mempersembahkan Opor Ayam tersebut ke altar tempat dirinya biasa berdoa untuk mendiang istrinya. Wei pun mengambil Opor Ayam di mangkuk lain. Dirinya mengingat mendiang istrinya. Yang membagikan Opor Ayam kesukaannya ketika lebaran tiba. Wei berkata “Ngapain sih? Kan Hari Raya kita masih lama”. Dengan sabar sang istri berkata “Kan kita juga harus memaafkan”. Wei menangis mengingat momen tersebut.

Sponsored Ad

Ketika Lebaran tiba, Mei dikagetkan dengan sebuah rantang yang dikirimkan ke rumahnya. Rantang tersebut berisi Opor Ayam yang dibuat oleh ayahnya. Mei pergi ke warung ayahnya. Terlihat sang ayah sedang berberes warung karena dirinya sudah menutup warung tersebut. Mei tersenyum, kini dirinya ternyata sudah berbaikan dengan sang ayah. Berkat sebuah Opor Ayam.


Sumber : Viddsee

Kamu Mungkin Suka