Ditengah Pandemi RS Adakan Asesmen Virrus Corrona, Harganya Bikin Melotot! "Jangan Aji Mumpung"

Beberapa waktu lalu, masyarakat mengkritisi kebijakan Kemenhub tentang penumpang pesawat.

Kemenhub dinilai mesti lebih tegas, jangan hanya sekadar rapid test.

Sponsored Ad

Kesehatan masyarakat, penumpang pesawat dipertaruhkan. Kenapa tidak dengan hasil tes PCR saja?

"Kebijakan melonggarkan aturan ini mungkin akibat dari banyaknya keluhan dan protes masyarakat, khususnya maskapai penerbangan. Tapi pertanyaannya, apakah dengan hanya rapid test, risiko penyebaran COVID-19 bisa dicegah ?," kata Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo di Jakarta, Rabu (10/6).

Politikus PDI Perjuangan ini menjelaskan, sebenarnya dia lebih setuju apabila tes PCR yang menjadi patokan.

Sponsored Ad

Tapi dengan satu syarat, tes PCR yang dilakukan secara mandiri oleh calon penumpang, biayanya mesti terjangkau.

"Kalau biaya untuk tes PCR lebih mahal dibandingkan harga tiket pesawat, ya wajar jika masyarakat keberatan. Bahkan banyak maskapai penerbangan yang terancam bakal gulung tikar," katanya.

Menyangkut besaran biaya tes (PCR) dan rapid test yang dipatok pihak rumah saakit selama ini, menurut Rahmad Handoyo cukup memprihatinkan. 

"Mahalnya biaya rapid test dan tes PCR itu harus jadi perhatian. Jangan sampai ada pihak yang aji mumpung, mencari kesempatan dalam kesempitan,"katanya.

Sponsored Ad

Dikatakan Rahmad, meskipun persyaratan telah dilonggarkan, biaya rapid tes serta PCR yang cukup fantastik dan memberatkan masyarakat harus tetap jadi perhatian. Apalagi, katanya, alat tes PCR buatan dalam negeri juga sudah mulai diproduksi.

"Kalau biaya rapid test dan PCR terjangkau, tentu masyarakat mau secara mandiri memeriksa dirinya,"katanya.

Sponsored Ad

Ditambahkan Rahmad, pemerintah juga hendaknya memprioritaskan pengadaan laboratorium PCR di semua RSUD.

Sebelumnya tes PCR menjadi salah satu syarat yang harus dilengkapi calon penumpang yang hendak melakukan perjalanan memakai transportasi umum seperti pesawat, kereta api, bus, maupun kapal.

Persyaratan ini dibuat untuk mencegah penularan virrus corrona (Covid-19). Hanya saja, banyak masyarakat yang merasa keberatan, terutama pihak maskapai penerbangan.

Sponsored Ad

Syarat itu dirasa memberatkan karena rumah saakit yang menyediakan layanan rapid dan PCR/swab tes mematok harga fantastis. Untuk bisa mengakses layanan itu harus merogoh kocek mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 3,2 juta.

Aturan terbang yang mengharuskan syarat tes PCR tersebut akhirnya dilonggarkan. Menteri Perhubungan Budi Karya dalam keterangannya, Selasa (9/6) mengatakan, calon penumpang domestik tidak perlu memiliki hasil tes PCR, cukup dengan tes cepat (rapid test).


Sumber : Kumparan 

Kamu Mungkin Suka